Ada sebuah kisah yang selalu saya ingat hinggga kini, yang selalu saya gunakan untuk memperbaharui iman saya dikala redup. Yaitu sebuah kisah tentang 6 pertanyaan Al Ghazali
Pertanyaan 1 : Apa yang paling dekat dengan kehidupan manusia?
Kematian yang sangat dekat dengan manusia (QS 3 : 185)
Pertanyaan 2 : Apa yang paling jauh dari manusia?
Masa lalu adalah hal yang sangat jauh dari manusia. Jangan menyesali masa lalu. Tugas manusia adalah menjaga hari ini dan melupakan masa lalu. Allah SWT melihat masa sekarang dan masa depan.
Pertanyaan 3 : Apa yang paling besar di dunia?
Nafsu adalah hal yang paling besar. Entah itu nafsu marah, nafsu syahwat, nafsu makan, dll (QS 7 : 179).
Pertanyaan 4 : Hal apa yang paling berat?
Amanah adalah hal yang paling berat (QS 33 : 72).
Pertanyaan 5 : Hal apa yang paling ringan?
Meninggalkan shalat adalah hal yang paling ringan dan mudah dilakukan. Padahal Allah tidak rugi jika manusia tidak shalat. Manusialah yang membutuhkan shalat.
Pertanyaan 6 : Apa yang paling tajam?
Lidah adalah hal yang paling tajam. Karena lidah, manusia bisa saling membenci dan membunuh.
Bagi saya jawaban dari pertanyaan nomor 1 cukup membuat kita merenung. Jika kematian adalah hal yang paling dekat dengan manusia, tentu setelah saya menulis artikel inipun saya tidak berani menjamin saya masih bisa bernafas. Lalu pertanyaan selanjutnya muncul dibenak saya, apakah saya sudah siap menghadapai kematian itu? Walaupun tahu tapi kenapa saya masih berani berbuat dosa? Kenapa saya merasa percaya diri bakal hidup lama? sehingga saya bisa berbuat dosa dan bertaubat kemudian? Apakah saya siap mempertanggungjawabkan hidup yang telah saya jalani ini? Apakah saya bisa menjawab pertanyaan malaikat munkar dan nankir? Sedangkan pertanyaan saya sendiripun saya tidak berani menjawabnya!
Sekilas tentang sakratul maut.
Sering saya mendengar dan membaca dari pengajian dan buku-buku agama tentang betapa sakitnya proses sakratul maut ini. Beberapa riwayat yang menggambarkan sakratul maut:
“Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.””
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.””
Tentunya rasa sakit dari sakratul maut ini tidaklah sama setiap orangnya. Rasa sakit sakratul maut berbeda tergantung dari keimanan dan kezalimanya selama hidup di dunia. tapi jika melihat kisah sakratul mautnya Baginda Rasulullah SAW, saya tidak dapat membayangkan bagaimana sakitnya sakratul maut manusia biasa?
Berikut kisah detik-detik malaikat jibril mencabut nyawa Nabi Muhammad;
“Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rosulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rosulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakratul maut ini” lirih Rosulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang berada disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rosulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang tega melihat kekasih Alllah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rosulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rosulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seolah hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. ” Uushiikum bis shalati, wamaa malakat aimanuku (peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu).” Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rosulullah yang mulai kebiruan. ” Ummatii, ummatii, ummatiii?” (umatku, umatku, umatku). Dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim’alaihi. ”
Dari kisah diatas, bisa saya bayangkan betapa seorang nabi, kekasih Allah yang telah dijanjikan surga untuknya juga merasakan dahsyatnya sakratul maut. Disebutkan pula, setelah seluruh makhluk hidup sudah dicabut nyawanya pada hari kiamat kelak dan yang tersisa tinggal malaikat Izrail lalu Allah SWT menyuruhnya untuk mencabut nyawanya sendiri, demi melihat dahsyatnya sakarataul maut yang sedang terjadi terhadap dirinya, beliau mengatakan "Ya Allah seandainya saya tahu ternyata pedih sekali sakaratul maut ini, tidak akan tega saya mencabut nyawa seorang mukmin". Bahkan jika pada saat itu masih hidup manusia di bumi, maka binasalah seluruh kehidupan dibumi akibat jeritan malaikat Izrail.
اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”Amin
-dari berbagai sumber-

